Jumat, 05 Oktober 2018

Introduksi PLTN di Bangladesh, How they did it?

Bangladesh adalah sebuah negara berkembang yang terletak di Asia Selatan [1]. Sebuah negara demokratis (bukan otoriter), Pemerintah Bangladesh berhasil meyakinkan rakyatnya untuk membangun PLTN di negerinya [2].

Ada pertanyaan menggelitik di benak saya:
Bagaimana pemerintahan Bangladesh bisa meyakinkan rakyatnya untuk membangun PLTN? dengan kata lain bagaimana rakyat Bangladesh bisa percaya bahwa proyek besar bernama PLTN tersebut dapat bermanfaat bagi mereka? Mengapa Indonesia belum berhasil meyakinkan rakyatnya?
Sebelum membahas itu semua, ada baiknya kita lihat perbandingan Indonesia dan Bangladesh:
Luas Wilayah
Luas Wilayah Indonesia Lebih Luas [3].

Luas Wilayah Bangladesh Lebih Sempit [3].

Negara Berkembang, PBB mengkategorikan Indonesia dan Bangladesh adalah negara berkembang, Pendapatan per-kapita Indonesia lebih baik dibandingkan dengan Bangladesh [4].
Economies by per capita GNI in 2012 [4]

Indeks Persepsi Korupsi: Tahun 2016 Indonesia berada pada rangking 90, sedangkan Bangladesh pada rangking 145.
Indeks Pesepsi Korupsi [5]

Corruption Perceptions Index [6]

Public trust in politicians:  data bank dunia (worldbank.org) pada tahun 2007 - 2017 kepercayaan publik terhadap politisi di Indonesia lebih baik dibandingkan dengan Bangladesh [7].

Public Trust in Politicians, Index (Indonesia 3.70) [7] 

Public Trust in Politicians, Index (Bangladesh 2.27) [7]

Jumlah Penduduk dan Konsumsi Listrik
Jumlah Penduduk dan Rata-rata Konsumsi Listrik - 2014 [8]

Rasio Elektrifikasi: Rasio elektrifikasi Indonesia (97.01 %), jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Bangladesh (62.4 %).
Access to electricity (% of population) [9]

Pembangkit Listrik, Produksi Batu Bara & Natural Gas
Daya (MW) Kapasitas Terpasang PLN 2016 [10]

Pembangkit listrik di Indonesia di dominasi oleh PLTU.

Producers, net exporters and net importers of coal in 2016 [11]
Indonesia adalah produsen batu bara terbesar ke-5 di dunia, sebagian besar batu bara tersebut di ekspor ke negara lain.

Bangladesh Energy Generation by Fuel Type in 2011 [12]

Pembangkit listrik di Bangladesh saat ini didominasi oleh PLTG (Gas Alam).

Natural Gas Production Rank [13]

Bangladesh memiliki cadangan minyak dan batu bara yang kecil, tetapi sumber daya gas alam yang besar [14]. Bangladesh adalah produsen gas alam terbesar ke-27 di dunia [13], untuk mencukupi kebutuhan gas alam yang terus meningkat, Bangladesh berencana untuk mengimpor gas dari Qatar [15]. Impor LNG sebanyak 0,6 juta ton pada tahun 2018, kemudian 2,9 juta ton pada 2019 dan pada 2020 impor bisa mencapai 4,6 juta ton [16,17]. Perlu diketahui bahwa tidak semua gas alam digunakan untuk keperluan produksi listrik.

Pengunaan Gas Alam di Bangladesh [18]

Mari Kita Bahas
Dari data di atas dapat dilihat bahwa "indeks persepsi korupsi" dan "public trust in politicians" di Bangladesh lebih buruk dibandingkan dengan di Indonesia, tetapi  pemerintah Bangladesh berhasil melaksanakan introduksi PLTN, sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa alasan utama berhasilnya introduksi PLTN di Bangladesh adalah:
  1. Kurang sumber daya energi. Gas alam yang diharapkan sebagai penopang utama dalam memproduksi listrik sudah tidak lagi mencukupi, tahun 2018 Bangladesh mulai mengimpor gas alam dari Qatar.
  2. Rasio elektrifikasi yang masih rendah (62,4 %), sepertiga dari penduduk Bangladesh belum menikmati listrik, bahkan hal ini menjadikan pergerakan "anti nuklir" tidak berkembang di sana. Sebagaimana dinyatakan dalam sebuah presentasi berjudul: "Stakeholder Involvement Activities for Successful Implementation of Rooppur Nuclear Power Plant (RNPP) project", dalam pertemuan IAEA-2017, dituliskan pada halaman ke-11:
No Anti Nuclear Movement was occurred in Bangladesh. Because 40% people stay out of light, they are in highly need of electricity, So, source of energy is immaterial to the people of Bangladesh [19].
Bila kedua alasan di atas diterapkan di Indonesia maka:
  1. Kurang sumber daya energi. Alasan ini kurang tepat, karena produksi batu bara di Indonesia masih sangat mencukupi, bahkan jumlah yang di ekspor lebih banyak dibandingkan dengan konsumsi dalam negeri.
  2. Rasio elektrifikasi yang masih rendah. Rasio elektrifikasi nasional di Indonesia sudah cukup tinggi (97.01 %). tetapi karena luasnya wilayah Indonesia masih ada beberapa daerah yang rasio elektrifikasinya masih rendah, jadi alasan ini dapat digunakan (hanya untuk daerah tersebut).

Rasio Elektrifikasi Indonesia - Juni 2017 [20]

PLTN dapat di gunakan di daerah yang rasio elektifikasinya rendah seperti Papua, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Tenggara. Data ini juga memberikan penjelasan mengapa introduksi PLTN di Jepara dan Bangka Belitung sulit di lakukan. Rasio elektrifikasi di Bangka Belitung sudah 100% dan 94,50% di Jawa Tengah. Masyarakat di sana sudah merasa tercukupi kebutuhan listriknya, hampir seluruh warganya menikmati listrik 7 x 24 jam. So...they only able to see the risk, not the benefit of NPP.

Tentu berbeda dengan kampung yang gelap (tanpa listrik). Hidup akan berubah dengan adanya listrik, banyak perlalatan rumah tangga yang menggunakan listrik, seperti: lampu, TV, DVD player, radio, AC, pompa air, mesin cuci, setrika, kulkas, rice cooker, dispenser/water heater, kompor listrik, microwave, vacuum cleaner, Kipas angin, blender, hair dryer, mesin jahit, komputer, laptop, printer, gadget (hp/tablet), dll.

Harus diakui kebijakan tentang introduksi PLTN di Indonesia bisa dikategorikan kebijakan yang tidak populer. Faktanya ada beberapa kebijakan energi yang tidak populer, tapi kebijakan tersebut tetap dapat (bahkan harus) dijalankan, bagaimana ceritanya?

Alasan paling populer dan sering terjadi yaitu menghindari defisit besar APBN. Walaupun kebijakan seperti ini sering dimanfaatkan lawan politik (oposisi) untuk merebut hati rakyat, keterpaksaan pemerintah adalah alasan yang tidak dapat dihindari, beberapa kebijakan tersebut diantaranya adalah:

1). Kenaikan Harga BBM
Tujuan utama menaikkan harga BBM adalah mengurangi/mencabut subsidi. Kebijakan ini cendung akan diambil pada pertengahan masa pemerintahan (bukan di tahun politik) [21], diharapkan menjelang periode pemilihan berikutnya, kondisi ekonomi sudah pulih. sehingga elektabilitas sang petahana akan tetap terjaga. Bahkan pada tahun politik tertentu (2009) dilakukan pienurunan harga BBM.

Indonesia sekarang bukan negara net eksportir minyak lagi, tetapi sudah menjadi negara net importir minyak. lifting minyak yang dulu bisa mencapai 1,4 juta barrel/hari, sekarang sudah banyak berkurang.

Pemerintahan Jokowi-JK termasuk beruntung dalam masalah harga minyak dunia, penemuan cadangan minyak baru (Shale Oil) di benua Amerika [22] memaksa produsen minyak timur tengah untuk menaikkan kapasitas produksi dengan tujuan menurunkan harga, agar minyak mereka laku, walaupun sebagai imbas dari penurunan harga minyak, telah membuat krisis ekonomi di timur tengah.

Kebijakan lain yang dilakukan pemerintahan Jokowi-JK adalah dengan menerapkan harga pasar minyak [23], jadi harga BBM akan fluktuatif, diharapkan tidak terjadi kenaikan ataupun penurunan harga yang ekstrem, yang memicu penolakan (demonstrasi besar).

2). Konversi Minyak Tanah ke LPG
Subsidi minyak tanah makin memberatkan pemerintah, Rp 5 ribu harus dikeluarkan untuk tiap 1 liter minyak tanah. Konsumsi masyarakat diasumsikan memakai 10 juta liter minyak tanah, berarti Rp 50 triliun dihabiskan hanya untuk subsidi. Itu situasi pada 2008 lalu [24].

Meski awalnya banyak yang menyangsikan akan berhasil, konversi minyak tanah ke elpiji  menjadi fenomena menarik dan penting. Bukan sekadar persoalan teknis, konversi berhasil mengubah kebiasaan yang sudah mentradisi. Konversi bahkan membangkitkan geliat ekonomi [25]:
  • Biaya pemakaian elpiji untuk keperluan memasak lebih murah.
  • Industri kompor elpiji  beserta asesoris maupun tabung elpiji.
  • Usaha distribusi atau penjualan produk industri tersebut.
Seperti yang sudah kita ketahui bersama, bahwa karena alasan ekonomi (pengurangan subsidi), program konversi ini walau diragukan akhirnya berhasil dijalankan. Walapun ada penolakan dari sebagian masyarakat karena takut, khawatir tabung elpiji meledak dan terbakar [26].
Mari Kita Simpulkan
"Solusi yang paling tepat (misalnya untuk menghindari defisit yang besar pada APBN), waktu kontroversi yang singkat (termasuk kalau ada demo), elektabilitas yang tetap terjaga di tahun politik, hasil akhir yang bermanfaat" 
adalah kata kunci untuk melaksanakan kebijakan energi yang tidak populer.

Jika introduksi PLTN tetap akan dilakukan, untuk menghindari proyek ini "Gagal Bermanfaat", maka waktu kontroversinya harus dipersingkat, dengan kata lain waktu antara pemilihan tapak hingga operasi harus sesingkat mungkin, tidak seperti PLTN pada umumnya yang membutuhkan waktu 6 tahun konstruksi. Salah satu jenis PLTN yang bisa dipilih adalah floating NPP,  untuk langkah awal, sistem sewa mungkin yang terbaik, mengapa?  PLTN tinggal didatangkan, dipasang dan dioperasikan, kita hanya membeli listriknya saja, kalau NIMBY nya keras, yaa ...tinggal dipindah ke pekarangan "back yard" yang lain. kalau di tolak terus...pulangkan saja ke negara asal.

Waktu konstruksi s.d operasi sebaiknya tidak melebih siklus politik (5 tahun), mengapa? karena kebijakan yang kurang populer dapat menurunkan elektabilitas, elektabilitas dapat turun apabila manfaat belum dapat diperoleh (listrik) sementara kontroversi dan biaya yang sudah dikeluarkan sudah sangat banyak (triliyunan), dengan bahasa yang simpel bahwa proyek ini tidak bisa digunakan untuk "pencitraan", kalau belum bermanfaat (ada produksi listrik) pada tahun politik, isu seperti ini dapat dimanfaatkan oleh lawan politik (oposisi), apabila oposisi memenangkan pemilihan berikutnya, ada kemungkinan proyek ini dihentikan,  seperti cerita menyedihkan PLTN Bataan di Philipine [27].

Berkaca dari pengalaman Bangladesh, opsi PLTN  sebaiknya ditawarkan ke daerah dengan rasio elektrifikasi yang masih rendah seperti Papua, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Tenggara. Mengingat data di atas hanya berdasarkan provinsi, diperlukan data yang lebih detail dalam skala kecamatan/kabupaten. Ada kemungkinan kecamatan/kabupaten di luar dari tiga provinsi di atas masih memiliki rasio elektrifikasi yang rendah. Mengapa data ini perlu? karena daya floating NPP yang tergolong kecil hanya bisa mencukupi kebutuhan tingkat kecamatan/kabupaten.

Note:
  1. Indonesia mengekspor batu bara, gas alam, tetapi mengimpor minyak bumi.
  2. Setelah konversi minyak tanah ke LPG, ada juga kemungkinan suatu saat nanti konversi LPG ke batu bara.
  3. Berkaitan dengan Introduksi PLTN, orang Bangladesh yang saya temui, lebih banyak bercerita tentang ketertarikan warga sekitar tapak, berkaitan dengan geliat ekonomi yang akan tumbuh di sekitar PLTN.
  4. Pada 2013 sekelompok ilmuwan Bangladesh dan diaspora global menyuarakan keprihatinan atas keselamatan dan kelayakan ekonomi model VVER-1000. Masalah, seperti ketidak sesuaian tapak terhadap keusangan teknologi model VVER-1000. Hingga pada tahun 2015, Rosatom menawarkan dua pembangkit listrik reaktor VVER-1200, dengan output kapasitas yang lebih besar 2.4 GWe [28]. Tipe VVER-1200 merupakan model terbaru yang dilengkapi dengan fitur "hydrogen recombiners" dan "core catcher" [29].
  5. Bangladesh pada tahun 2018 mengimpor batu bara, gas alam, dan minyak bumi.
  6. Alasan Bangladesh, yaitu "Kurang sumber daya energi" dan "Rasio elektrifikasi yang masih rendah (62,4 %)", saya tambahkan dalam daftar "Sejarah Perkembangan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN)"  (https://bit.ly/2OD80IG)
  7. President of Rosatom Overseas Evgeny Pakermanov berpendapat Floating Nuclear Power Plant (FNPP) sesuai bagi kebutuhan Indonesia yang memiliki banyak pulau dan berintensitas gempa yang cukup tinggi [30].
  8. Pembangkit listrik tidak bisa dibangun terlalu jauh dari beban (pengguna listrik), karena akan terjadi penurunan tegangan. Gardu Induk (GI) dalam jarak yang cukup jauh dari pusat beban akan menyebabkan terjadinya penurunan tegangan. Pengintegrasian pembangkit tersebar (Distributed Generation) pada jaringan distribusi akan menjadi salah satu solusi untuk memperbaiki penurunan tegangan [31]. Itulah alasan mengapa pembangkit listrik dibangun tersebar di banyak wilayah di Indonesia.
  9. Jenis PLTN lain (selain Floating NPP) yang yang memiliki masa kontstruksi agak pendek adalah SMR " typical large reactor projects can take up to ten years or more to build, SMRs should be able to be built in far less time, perhaps in as little as three years[32].
Referensi:

Rabu, 22 Agustus 2018

Bike to Work (B2W)

Bike to work (B2W) atau bersepeda ke tempat kerja bukanlah budaya yang memasyarakat di negara kita, jalan dipenuhi oleh sepeda motor dan mobil. Berbeda dengan tempat lain, di Amsterdam-Belanda misalnya, jalan dan parkiran kereta di sana dipenuhi oleh sepeda.

Sepeda Amsterdam
Amsterdam - Belanda

Jauh....
Jarak yang jauh, bisa saja merupakan salah satu alasan mengapa kita tidak memilih B2W, tapi lihat dulu screenshot Facebook Group (Jakarta B2W - Bike to Work) di bawah yang bisa bikin geleng-geleng kepala [1]:

Jarak Tempuh Sepeda

diantara mereka ada yang menempuh 12 km, 15 km, 20 km bahkan 32 km. Jarak 6 km atau 12 km PP untuk saya tergolong dekat. Bila ragu tidak mampu PP, bisa dicoba one way dulu...

Mixed-mode commuting adalah alternatif lain bila jarak tempuh jauh, kita bisa menggunakan sepeda lipat kemudian naik kereta (KRL), tapi tentunya saat gerbong kereta agak lengang, bisa pagi banget atau agak siang, kalau jam masuk kantornya agak siang. Sepeda lipat juga bisa dimasukkan bagasi taksi (konvensional/online) jika ada sesuatu yang menyebabkan kegiatan bersepeda terganggu (kelelahan, ban bocor, hujan, dll).

Mixed mode commuting
Mixed-mode Commuting by Ajie Artotian [2].

Lambat....
Lambat, bisa saja merupakan salah satu alasan mengapa kita tidak memilih B2W, tapi kalau kita hidup di kota besar seperti Jakarta, banyaknya lampu merah dan jalanan yang macet membuat perbedaan kecepatan antara motor dan sepeda tidak begitu signifikan, bahkan sepeda bisa diangkat saat macet parah (tidak bergerak) ... cari jalan alternatif... melewati portal atau trotoar... upps... [3] (https://bit.ly/2w7kE89 )

Rizki Kurniawan Hadi Jarak Tempuh
34,7 km/h (rata-rata) by Rizki Kurniawan Hadi [1].

Apabila kecepatan rata-ratanya saja 34,7 km/jam, tentu saja kecepatan maksimalnya lebih cepat dari itu, sebaiknya diperhitungkan waktu tempuh dan jam berangkat, agar tidak terlambat. Jarak tempuh 31,3 km.... PP jadi 62,6 km... jarak tempuh yang fantastis.

Arif Isnaeni Jarak Tempuh
Screenshot "Ride with GPS" by Arif Isnaeni

Dari data "Ride with GPS" saya di atas, kecepatan max 29,6 km/jam, kecepatan rata-rata 18,6 km/jam... Jarak tempuh 5,5 km, durasi 21 menit, sama dengan durasi saya kalau naik sepeda motor, kan gak mungkin ngebut kalau lewat jalan kampung atau jalanan yang macet.

Keringetan....
Keringat...itu satu yang dicari dari olah raga ala B2W, baju ganti sebaiknya disiapkan terutama bagi yang kerja kantoran, kan gak asik ngantor tapi bau keringet. Beberapa aktivis B2W bahkan mengenakan jersey khusus bersepeda.

Gengsi....
Gengsi, bisa saja merupakan salah satu alasan orang  enggan B2W. Apa yang kita naiki memang bisa menunjukkan kelas sosial, kan beda kalau naik motor atau mobil, apalagi motornya moge/sports atau mobilnya mewah, tapi sepeda juga ada kelasnya Bos... harga sepeda bisa berkisar 1 juta s.d 100 juta Rupiah [4].

Cuaca....
Hujan atau terik matahari bisa saja merupakan salah satu alasan mengapa kita tidak memilih B2W, tapi perlu dipahami pada jam berangkat (pagi) dan pulang (sore/malam), sinar matahari tidak akan terlalu panas. Kalau hujan bagaimana?... sebenernya sama dengan naik motor, kita bisa menggunakan jas hujan atau malah hujan-hujanan ala beberapa aktivis B2W berikut [1]:

Bike to Work Jakarta
Kehujanan atau tidak Tetep Basah (Keringetan).

Keselamatan....
Tingkat keselamatan mengendarai sepeda bisa disejajarkan dengan mengendarai motor, bahkan, kemungkinan berakibat fatal lebih tinggi pada pengendara motor [12].

Jalan Naik-Turun....
Jika kontur jalan berbukit (naik-turun), kita bisa menggunakan sepeda gunung  (Mountain Bike - MTB), sprocket gear (gigi) sepeda akan sangat membantu untuk melewati tanjakan, seperti video Youtube berikut: https://youtu.be/CRebrA8JDZM

Note:
  • Mungkin terlihat aneh, naik sepeda di jalanan yg penuh sesak oleh motor dan mobil, tapi kalau kita cermati, demi meng-olah raga-kan badan, kita melakukan hal-hal yang aneh, seperti lari tanpa tujuan (muter-muter atau di atas treadmill), mengangkat dan menarik sesuatu di fitness center, mukul-mukul bola kecil pakai tongkat (golf), mengejar dan berebut bola (sepak bola), memukul benda berbulu angsa (bulu tangkis), dll. Apalagi kalau jenis olah raga tersebut pertama kali kita lihat, semakin aneh kelihatannya. Seperti video Youtube berikut: https://youtu.be/Lsn8z-AJxFc
  • Setidaknya dengan B2W beberapa tujuan tercapai yaitu olah raga dan sampai di tempat kerja, dan efek sampingnya adalah ... ngirit .... hehehe...
  • Beberapa manfaat B2W: Menyegarkan badan, Meningkatkan suasana hati, Tubuh lebih ramping [5], Meningkatkan kekuatan otot, Merawat sendi, Menurunkan resiko penyakit [6], mengurangi polusi udara .... Secara simpel dapat dikatakan B2W adalah salah satu investasi kesehatan.
  • Bagi anda yang punya masalah dengan sendi lutut (dengkul basa jawanya), berenang dan bersepeda adalah olah raga yang dianjurkan, karena olah raga ini tidak terlalu memberikan tekanan pada lutut. Kalau tidak ingin tas membebani punggung/tulang belakang, bisa diletakkan di belakang (boncengan/pannier)
  • Ada banyak tipe/jenis sepeda, kita bisa memilih sesuai dengan kebutuhan kita [7], [8]. Kalau saya memilih menggunakan sepeda hybrid, perpaduan antara rangka sepeda gunung (Mountain Bike - MTB) dan roda sepeda balap (Road Bike), perlu diketahui, karena ban yang tipis, sepeda jenis ini tidak cocok untuk jalanan yang rusak/sedang dalam perbaikan.
Hybrid Bike Arif Isnaeni
My Hybrid Bike
  • Bila bingung memilih jenis sepeda, bisa menggunakan panduan pada referensi ini [9].
  • Jika jarak rumah ke tempat kerja jauh, sebaiknya anda latihan dulu, misalnya mencoba bersepeda di akhir pekan, dari jarak yang pendek kemudian berangsur-angsur semakin jauh.
  • Kalau jarak tempuh jauh sebaiknya sediakan air minum, agar tidak dehidrasi.
  • Jarak tempuh 6 km atau PP 12 km bagi saya memang kadang terasa kurang, untuk menambah keringat sesampainya di rumah, kadang saya memainkan Nunchaku/Ruyung ataupun bermain dengan Samsak :-) 
  • Kalau tidak ingin keringetan (gak perlu ganti baju), naiknya pelan-pelan saja (15 km/jam), kalau ingin keringetan banget ya sebaliknya.... bisa dianalogikan antara lari (keringetan) dan jalan (tidak keringetan), walaupun jarak tempuhnya sama jauhnya.
  • di Saudi, sebagian warganya olah raga (lari-lari) setelah maghrib/isya maklum siang di sana panas. Jadi jarang ada B2W disana, beberapa orang yang terlihat melakukan B2W adalah para pekerja konstruksi yang berasal dari Afrika ataupun pekerja sektor lain dari Asia Selatan.
  • Saya tidak menyarankan menggunakan sepeda yang mahal agar tambah pede, sepeda juga bisa hilang, seperti motor dan mobil. Walaupun jalan kaki, kita juga pede,  kaki adalah alat transportasi yang paling handal dan diperlukan, bisa dibayangkan kalau kita tidak punya kaki.
  • Kerugian akibat kemacetan sangatlah besar, data di Jabodetabek di tahun 2017 saja mencapai 100 Triliun [10], volume kendaraan dan volume jalan sangat tidak seimbang, itulah mengapa negara maju sangat memperhatikan transportasi umum, tentu banyak pejalan kaki dan juga pesepeda di sana.
  • Melakukan sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan tentu lebih mudah dibandingkan melakukan sesuatu yang baru [11]...  kalau B2W adalah hal baru bagi anda... kata kuncinya adalah "Mulai"...jangan terlalu banyak dibayangkan/dipikirkan.... bisa-bisa malah gak jadi B2W.
  • B2W cocok buat anda yang tidak punya waktu berolah raga, bisa karena tidak sempat atau tidak mau meluangkan waktu (lebih milih aktivitas lain), ataupun alasan lain misalnya akses yang sulit ke tempat olah raga (kendala jarak, biaya, jadwal pemakaian tempat, jumlah pemain, dll).
Referensi:
[1]. Jakarta B2W - Bike to Work https://www.facebook.com/groups/90674207791/
[2]. https://www.facebook.com/groups/bike2workindonesia/permalink/10156688669617560/?__tn__=K-R
[3]. https://www.facebook.com/groups/90674207791/permalink/10156756233577792/
[4]. https://sepedaku.org/sepeda-polygon/
[5]. https://www.vemale.com/kesehatan/77277-bike-to-work-ini-alasan-mengapa-anda-harus-melakukannya.html
[6]. https://www.gentlemancode.id/read/kesehatan/Bike-to-Work-Kenapa-Enggak-Ini-6-Alasannya
[7]. https://sains.kompas.com/read/2017/05/22/112007120/sepeda.apa.yang.cocok.untuk.anda.?page=all
[8]. http://gooesinfo.blogspot.com/2016/07/jenis-sepeda-berdasarkan-kegunaanya.html
[9]. http://store-id.polygonbikes.com/panduan-memilih-sepeda.html
[10]. https://ekonomi.kompas.com/read/2017/12/04/093800026/kerugian-akibat-kemacetan-di-jabodetabek-capai-rp-100-triliun
[11]. https://sains.kompas.com/read/2018/06/12/203600823/berapa-lama-waktu-yang-dibutuhkan-untuk-mengubah-kebiasaan-
[12]. https://www.lewisandtompkins.com/which-is-more-dangerous-riding-a-bike-or-riding-a-motorcycle.html

Minggu, 30 April 2017

Ban Meletus (kempes mendadak), Cara Mengatasinya ...

Ban yang meletus atau kempes mendadak pada saat mobil dalam kecepatan tinggi sangat berbahaya, perlu tindakan yang tepat agar tidak terjadi kecelakaan. Artikel ini saya tulis berdasarkan pengamatan yang saya lakukan pada video-video berikut:

Hal yang perlu dilakukan pada saat ban meletus dalam kecelakaan tinggi (di atas 60 km/jam):
Pertama: Jangan injak pedal rem secara mendadak (rem panik), jauhkan kaki dari pedal rem, karena hal ini akan mengakibatkan mobil tidak terkendali (spin ataupun terguling):
Sedan berputar karena rem mendadak [1] <-- youtube direct link


Jeep yang berguling (flip) [2] <-- youtube direct link

Pada video pertama sedan berputar (spin) setelah direm secara mendadak, ini adalah kelebihan dari sedan yang tidak mudah terguling, karena kendaraan rendah dan lebar (lebar > tinggi), berbeda dengan kendaraan yang lebih tinggi (Jeep, MPV, SUV, Truk, Bus), kendaraan ini lebih mudah terguling. Pada video tentang Jeep di atas setelah mobil menepi, kemudian mobil direm mendadak (ada suara rem), mobil tidak terkendali, keluar dari aspal dan kemudian terguling.

Kedua: Jangan langsung menepi (keluar dari aspal/beton) pada kecepatan tinggi atau jangan berpindah jalur pada kecepatan tinggi, sebaiknya usahakan mobil tetap lurus. Menepilah setelah kecepatan berkurang (dibawah 40 km/jam). Menepi pada kecepatan tinggi meningkatkan probalilitas mobil keluar dari aspal/beton. Mobil lebih sulit untuk dikendalikan bila di atas tanah atau rumput, karena ban yang terpasang tidak didesain untuk bekerja maksimal selain di atas aspal/beton (terutama dalam kecepatan tinggi), sebagaimana dapat dilihat pada video di bawah ini:

Ketiga: Kendalikan kendaraan dengan menginjak pedal gas (hanya sesaat sampai mobil terkendali), kemudian lepas pedal gas perlahan-lahan, ATAU langsung lepas pedal gas. Ada perbedaan pendapat pada poin ketiga, yaitu apakah injak terus pedal gas sampai mobil terkendali kemudian baru dilepas (perlahan-lahan), ATAU langsung lepas pedal gas, tapi pada intinya jangan injak pedal rem secara mendadak (rem panik). kedua perpedaan pendapat tersebut dapat dilihat pada video dan komentarnya berikut:


Mengendalikan Truk Bila Ban Meletus [5] <-- youtube direct link

Pada video berikutnya anda bisa melihat mobil sport (sedan) dalam kecepatan yang sangat tinggi (327 km/jam) yang selamat karena tidak menginjak rem secara mendadak (rem panik) dan tidak menepi (keluar dari aspal) dalam kecepatan tinggi, sehingga mobil tidak berputar (spin) dan juga tidak terguling.




Kerusakan yang ditimbulkan [7]

Setelah mobil sport ini berhenti ban hilang dan hanya tersisa velg, jauh lebih baik dibanding bila terjadi spin kemudian berbenturan dengan mobil lain/pembatas jalan, kelebihan lain dari mobil jenis ini adalah diameter velg yang besar dan ban yang tipis, sehingga diamater velg dan diameter ban tidak berbeda jauh yang tentunya akan berpengaruh besar dalam pengendalian mobil bila ban meletus.

Note:
  1. Semua yang saya tulis di atas hanyalah teori yang perlu dilatih untuk menimbulkan refleks yang tepat saat mengalami ban meletus dalam kecepatan tinggi, hal yang tidak mungkin dilakukan kecuali anda adalah seorang pembalap yang dilatih untuk meminimalkan akibat kecelakaan.
  2. Bila ban depan meletus akan terasa di roda kemudi (stir), bila ban belakang meletus akan terasa pada kursi anda.
  3. Anda dapat melihat video yang lain dengan kata kunci "tire blowout" [7]
  4. Saat mengendari motor, saya pernah mengalami ban meletus (ban belakang), di perempatan harmoni, dari jalan Veteran  menuju Jalan Gajah Mada, saat itu kecepatannya sekitar 40 - 50 km/jam, refleks saya adalah saya tidak berani berbelok, hanya mengerem pelan-pelan, berhenti di depan harmoni plaza, bersyukur saat itu tidak jatuh, tentu dapat dimengerti karena ban yang digunakan bukan ban tubeless, saat terkena ranjau paku ban dalam bisa langsung robek dan kempes.
  5. Pada video terakhir ada yang berkomentar bahwa di Jerman 200 Mph adalah legal, tentu berbeda dengan di negara kita.

Referensi:
[1] https://youtu.be/lHYt6KC5ZYc
[2] https://youtu.be/T2fdl6eeXpk
[3] https://youtu.be/9LkLeljt4t0
[4] https://youtu.be/lkwOE1yKY5c
[5] https://youtu.be/8znCgvHMb-g
[6] https://youtu.be/PYcL1rBE_Ms
[7] https://a-a.d-cd.net/7a2e792s-960.jpg
[8] https://www.youtube.com/results?search_query=tire+blowout


Selasa, 24 Januari 2017

Warisan Cita-Cita

Beberapa kali kita melihat anak pejabat/mantan pejabat  dicalonkan dalam Pilkada ataupun Pemilu. Suatu hal yang lumrah bahwa kita ingin masa depan lebih baik, hal tersebut terkadang juga diterapkan untuk anak kita, kita ingin anak kita memiliki kehidupan yang lebih baik dibandingkan dengan orang tuanya, karir yang lebih baik, pendidikan yang lebih tinggi, harta yang lebih banyak, rumah yang lebih bagus, kendaraan yang lebih mewah, dst ....atau setidaknya menyamai/setingkat dengan orang tuanya....Secara simpel kita ingin anak kita bisa dibanggakan.

Menurutu KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) cita-cita [1] adalah :
  1. Keinginan yang selalu ada di dalam pikiran.
  2. Tujuan yang sempurna (yang akan dicapai atau dilaksanakan).
Kadang orang tua mengutarakannya secara lisan:
"Nak nanti besar sekolah di kedokteran ya"
"nanti kerja di perusahaan minyak ya"
"nanti kamu masuk partai ya....meneruskan karir politik ayah"
“kamu kuliah di ekonomi ya...biar bisa meneruskan bisnis keluarga”
Terkadang kita lihat keadaan yang kontradiktif, orang yang sudah dianggap berhasil dalam karir, pendidikan dan ekonomi oleh orang-orang disekitarnya, tetapi masih dianggap kurang berhasil oleh orang tuanya, hal ini disebabkan kelas ekonomi/karir/pendidikan orang tuanya masih lebih tinggi dibandingkan anaknya. Sebagai ilustrasi, kalau orang tuanya Camat, dia ingin anaknya menjadi Bupati. Kalau orang tuanya Bupati ingin anaknya mejadi Gubernur, dst.

Kadang, kekhawatiran orang tua bahwa anaknya tidak mendapatkan sekolah (pendidikan) ataupun pekerjaan (karir) yang bisa dibanggakan, membuat hal-hal seperti ini bisa terjadi:
  1. https://bit.ly/2LPENEK   [2]
  2. https://bit.ly/2ClfTh9       [3] 
  3. https://bit.ly/2C9t7x3      [4]
    Pertumbuhan (jumlah) penduduk yang besar tidak sebanding dengan pertumbuhan (jumlah) lapangan kerja ataupun sarana pendidikan. Persaingan untuk memperoleh pendidikan/lapangan kerja semakin ketat.

    Berbeda dengan negara-negara maju, pertumbuhan penduduknya cenderung tetap, bahkan negatif. Walapun jumlah lapangan kerja tidak bertambah, jumlah angkatan kerja semakin menurun, sehingga pengangguran relatif rendah, sebagian dari mereka bahkan tidak tertarik dengan segmen pekerjaan tertentu seperti misalnya buruh pabrik, tukang batu, pekerja pekerbunan, cleaning service, sopir, sehingga pekerjaan-pekerjaan tersebut diisi oleh orang-orang asing (expatriate).

    Sebagaimana di negara kita, Kalangan terdidik (S1 - S3) cenderung gengsi untuk mengambil pekerjaan tertentu, yang bisa diisi pekerja tanpa pendidikan tinggi. Memang sangat butuh keberanian untuk melawan gengsi untuk mengambil pekerjaan seperti: Pedagang kecil, tukang ojek, buruh pabrik. Kalangan terdidik cenderung memilih menganggur daripada mengambil pekerjaan yang gensinya kurang.

    Note:
    1. Jikalau dalam pendaftaran dan seleksi suatu pekerjaan atau pendidikan (ikatan dinas) kita mengeluarkan dana ratusan juta, sebenernya kita sedang daftar seleksi atau ndaftar MLM, bisa dibayangkan berapa bonus yang didapatkan para upline-nya.
    2. Gaya hidup mewah para upline ini kadang memunculkan generasi yang tertipu, mereka mengira pekerjaan/jabatan tertentu menjanjikan kekayaan, merekapun mendaftar sebagai downline dengan biaya yang banyak, tetapi ternyata gajinya sedikit.
    3. Berhasil lolos seleksi pada sekolah ber-ikatan dinas, bagaikan berhasil mendapatkan pekerjaan.
    4. Bukan hal yang mudah bagi kita untuk menghadapi godaan membantu anak secara ilegal, terutama bila kita mempunyai uang/pengaruh, karena kita cenderung malu bila anak kita tidak memiliki pendidikan/pekerjaan yang baik.
    5. Dalam suap terkandung banyak unsur kezaliman, seperti mengambil hak orang lain, memengaruhi keputusan penguasa sehingga merugikan pihak lain. Bagi pemberi diperbolehkan jika tidak memberikan suap, dia tidak akan mendapatkan haknya atau akan diperlakukan secara zalim. Sedangkan, bagi penerima hukumnya haram karena dia tidak berhak menerima hal itu. Misalnya, seseorang yang mengurus sesuatu ke aparat pemerintahan. Sang aparat tidak akan mengurus kebutuhannya jika tidak diberi suap [5].
    Referensi:
    [1] http://kbbi.web.id/cita
    [2] http://news.okezone.com
    [3] http://nasional.republika.co.id
    [4] http://www.jpnn.com
    [5] http://www.republika.co.id/berita/koran/dialog-jumat/16/04/22/o60ws617-suap-karena-terpaksa-bolehkah

    Jumat, 09 September 2016

    Public Trust (Kepercayaan Masyarakat)

    Pada musim gugur yang sejuk, dengan temperatur 18 - 30 C, di negeri gingseng, kami menghabiskan beberapa minggu di sebuah kota kecil di tengah-tengah semenanjung Korea, Daejeon atau "a grand field" dalam bahasa inggris, kota kecil yang berpenduduk 1,5 juta jiwa [1], kami melewati hari-hari dengan duduk dalam ruang kelas training, diselingi dengan kunjungan pada fasilitas nuklir pada akhir pekan.

    2016, Presentasi

    Pesertanya berasal dari negara Asia Tenggara, Asia  Selatan dan Timur Tengah. Belakangan memang jumlah peserta training dari timur tengah semakin banyak. sangat mungkin berkaitan dengan UEA (Uni Emirat Arab) dan Iran yang sedang dan sudah memiliki PLTN, yang besar kemungkinan memicu negara tetangganya untuk ikut-ikutan membangun [2].

    Tiba saat nya untuk presentasi masing-masing negara tentang kondisi dan rencana program nuklirnya. Saya pun ikut serta dalam presentasi tersebut, dalam presentasi, saya mengutarakan:

    We plan to built 10 MW HTGR – Experimental NPP in Serpong
    Since 1980s up to now we delay and delay NPP Program:
    • 1967 – 1998, we have chance to built because of strong leadership
    • 1999 – Now, public acceptance problem, then it becomes political issues, especially during general election.
    We try and try to educate public about the high safety system of NPP
    Seorang peserta dari Mesir bertanya
    "what is strong leadership?"
    kemudian saya pun menjawab:
    "He was strong leader...just like Hosni Mubarak in your country [3]"
    yang saya maksud dengan "strong leadership" adalah masa orde baru, siapa yang berani protes pada masa orde baru kalau presidennya sudah mengambil kebijakan strategis. Setelah berakhirnya orde baru "public acceptance" menjadi masalah dan kemudian menjadi isu politik, dimana tidak satupun bakal calon pimpinan eksekutif ataupun bakal calon anggota legislatif yang berani/mau memasukkan pembangunan PLTN dalam program kerjanya.

    sesaat kemudian peserta dari Bangladesh bertanya:
    "What is your national planning about the electrical demand in the future, why you didn't built it?"
    kemudian sayapun menanggapi:
    "During our strong leader, he did not decide to built NPP, may be because at his time our population was only 100 millions people and our oil production was 1.5 million barrel/day, but now...our population is 255 millions people and our oil production is 900 thousand barrel/day, we need more energy, but now we are facing public accepatance problem"

    2009, My first time in Korea 

    Dulu sepulang training dari Korea sekitar tahun 2009, saya memberikan presentasi di kantor bahwa dalam sejarah Korea:
    Pada tahun 1978, Korea Selatan mulai mengoperasikan PLTN pertamanya, dengan perjanjian kontrak transfer teknologi, Pada tahun 1998 Korea Selatan berhasil membuat PLTN produksi dalam negeri, PLTN memasok sepertiga kebutuhan listrik mereka.
    kemudian diantara para hadirin ada yang bertanya:
    "kalau dari perjalanan sejarah Korea Selatan bisa melakukan hal tersebut, mengapa kita tidak bisa?"
    kemudian saya menjawab:
    "Pada saat PLTN pertama di bangun di Korea Selatan, pemerintah Korea yang memutuskan, publik tidak memberikan banyak respon karena saat itu publik belum tahu banyak tentang keuntungan ataupun kerugian (bahaya) PLTN, tetapi seiring berjalannya waktu, Korea Selatan semakin maju dan pada saat bersamaan kepercayaan rakyat (public trust) terhadap pemerintahannya semakin tinggi, sehingga untuk pembangunan PLTN berikutnya cenderung mudah tanpa penolakan dari rakyatnya"
    "Berbeda dengan Indonesia, kepercayaan rakyat (public trust) terhadap pemerintahannya masih kurang, sehingga untuk meyakinkan rakyat tentang manfaat dari PLTN bukanlah hal yang mudah, kadang....tiap kali ada rencana pembangunan PLTN, sebagian rakyat hanya memandangnya sebagai kegiatan mencari proyek"
    Memang tak dapat dipungkiri bahwa kepercayaan rakyat terhadap pemerintahannya masih kurang, namun saya ingin menyatakan bahwa hal ini adalah hal yang aneh, setelah orde baru berakhir, rakyat sangat bebas untuk memilih siapa saja yang dapat duduk dalam lembaga legislatif (wakil rakyat) dan pucuk pimpinan eksekutif (presiden, gubernur, bupati, kepala desa), bagaimana bisa mereka memilih orang yang tidak dapat dipercaya??

    bukankah para pimpinan eksekutif dan legislatif tersebut yang nantinya akan mengambil kebijakan-kebijakan strategis dan juga memilih orang orang penting, termasuk para pimpinan yudifkatif, pimpinan penegak hukum dan para menteri??. Munculnya tokoh-tokoh seperti Jokowi, Tuan Guru Bajang, Ridwan Kamil, Risma adalah pilihan rakyat.

    Lahirnya para pemimpin yang kurang amanah pada dasarnya diawali oleh kesalahan rakyat dalam memilih para pemimpinnya, kesalahan itu disebabkan oleh:
    1. Rakyat yang tidak mengenal calon pemimpinnya, kebaikan dan keburukan mereka, saya pun sering bingung ketika memilih caleg DPRD tingkat 1 dan 2, tidak ada seorang pun yang saya kenal sedikitpun kebaikan dan keburukannya. Hal ini lumrah untuk sebuah negara besar dimana tidak mungkin semua orang saling mengenal, tapi sangat aneh ketika kita salah dalam memilih kepala desa, pada umumnya rakyat desa cenderung mengenal calon kepala desanya dengan baik.
    2. Money politic, pada negara berkembang dimana sebagian rakyatnya kurang mampu, politik uang sangat berpengaruh, berbeda dengan negara-negara kaya, memberikan 100 ribu rupiah pada pemilu di negara maju atau kaya minyak adalah hal yang sia-sia.
    Apabila kita menjual suara dengan sejumlah uang (money politic)...Jika menerima uang tersebut kita anggap sebagai menerima gratifikasi (korupsi), maka kitalah sebagai rakyat yang sudah medahului melakukan korupsi dan jangan heran bila orang yang telah kita pilih tersebut juga nantinya melakukan korupsi...dan ada kemungkinan uang hasil korupsi tersebut dipakai lagi untuk biaya politik (money politic) pemungutan suara periode berikutnya....sebuah siklus politik uang.
    Note:
    1. Ada negara peserta tidak mengalami masalah dengan "public acceptance" dengan PLTN (Bangladesh). menurut peserta training tersebut walaupun tetap ada yang menolak tetapi lebih banyak yang menerima, melalui usaha sosialisasi yang mereka lakukan, dan juga karena rasio elektrifikasi yang masih rendah (62,4 %), serta kurangnya sumber daya energi. Kalau di Indonesia tetap banyak juga yang setuju, entah berapa persen, karena belum ada jajak pendapat nasional, tetapi ada kemungkinan pada umumnya NIMBY [4]. Jadi ada juga negara lain yang tetap membangun, dalam artian proyek pembangunannya dijaga ketat oleh aparat bersenjata.
    2. Negara lain yang tidak mengalami masalah dengan public acceptance adalah Jordan, sebuah negara kerajaan, pada negara kerajaan rakyat cenderung mengikuti kebijakan raja.... btw, bagaimana kalau raja Jogja mau bangun PLTN apakah rakyatnya setuju? belum tentu juga karena kekuasaan raja Jogja tidak seperti raja Jordan.
    3. Ada juga negara yang tidak mengalami masalah dengan "public acceptance" tetapi mengalami kendala finansial dengan pembiayaan pembangunan (Vietnam), negara tersebut didominasi partai komunis [5]. kalau Indonesia kemungkinan tidak mengalami masalah, bisa mencari "investor" ataupun "ngutang lagi".
    4. setelah kecelakaan Fukushima, memang ada pro dan kontra penggunaan PLTN di Korea Selatan, sepertiga listrik mereka berasal dari PLTN, hingga saat ini mereka tetap menggunakan PLTN, salah satu pertimbangannya karena kurangnya sumber daya energi alternatif.
    5. Tahun 2007 Qatar sudah memiliki rencana yang matang untuk membangun PLTN, tetapi kemudian ditunda, dikarenakan negara tetangga mereka UEA membangun PLTN, mereka menganggap 4 PLTN yang sedang dibangun di UEA sudah mencukupi kebutuhan mereka, perlu diketahui terdapat interkoneksi jaringan listrik antara UEA dan Qatar.
    6. Cita-cita membangun pemerintahan yang baik dan kesejahteraan rakyat masih mungkin dilakukan dengan pemilu/pilpres/pilkada yang baik, setelah itu terserah rakyat yang menentukan apakah PLTN perlu dibangun ataupun tidak, PLTN bersifat mubah, bukan haram ataupun wajib.
    Referensi:
    [1] https://simple.wikipedia.org/wiki/Daejeon
    [2] http://arifisnaeni.blogspot.co.id/2012/02/sejarah-perkembangan-teknologi-nuklir.html
    [3] https://id.wikipedia.org/wiki/Hosni_Mubarak
    [4] https://en.wikipedia.org/wiki/NIMBY
    [5] https://id.wikipedia.org/wiki/Vietnam




    Minggu, 31 Juli 2016

    "We Take The Risk" (kita ambil resikonya)

    Seperti tahun-tahun sebelumnya perjalanan mudik tahun ini diwarnai dengan berbagai kecelakaan, baik yang bisa kita lihat langsung, maupun informasi dari media massa.

    Jumlah kecelakaan lalu lintas pada masa angkutan lebaran tahun 2016 berdasarkan pantauan yang dilakukan oleh Korlantas Polri pada H-6 hingga H+8, korban meninggal akibat kecelakaan 558 jiwa. Kecelakaan lalu lintas pada saat mudik masih didominasi oleh kendaraan bermotor roda dua yang menyumbang 3.766 kecelakaan. Kecelakaan mobil 864. Moda angkutan bus sebesar 157 [1].

    Pernahkah kita befikir bahwa pada umumnya kendaraan yang kita gunakan sebenarnya dengan sengaja didesain untuk tidak begitu tahan tumbukan (kecelakaan), padahal sebenarnya bisa dibuat lebih tahan terhadap tumbukan (kecelakaan), bahkan bumper yang fungsinya untuk menahan benturan pun saat ini kebanyakan terbuat dari fiber glass ataupun plastik.


    Kumpulan Video Kecelakaan [3]

    Keselamatan dalam industri otomotif sudah sangat diatur. Kendaraan bermotor harus mematuhi sejumlah norma dan peraturan, baik lokal maupun internasional, agar dapat diterima di pasar. Standar ISO 26262, dianggap sebagai salah satu kerangka kerja praktek terbaik untuk mencapai keselamatan fungsional otomotif [4]

    Beberapa aspek teknik yang dipertimbangkan [5] :
    1. Rekayasa keselamatan: sabuk keselamatan, air bag, pengujian tumbukan.crash test dummies, partial system sled and full vehicle crashes.
    2. Ekonomi bahan bakar / emisi: kilometer per liter. uji emisi hidrokarbon, nitrogen oksida (NOx), karbon monoksida (CO), karbon dioksida (CO2).
    3. Elektronik Kendaraan: sistem elektronik untuk kontrol operasional rem dan kemudi, HVAC, infotainment, pencahayaan, dll.
    4. Kinerja: yaitu nilai yang terukur dan dapat diuji dari kemampuan kendaraan untuk tampil di berbagai kondisi.
    5. Ergonomi 
    6. Biaya
    7. Respon pasar dan jadwal produksi.
    8. Kelayakan perakitan: mudah dirakit dan murah  
    Pertimbangan biaya dan ekonomi bahan bakar mengakibatkan kendaraan dibuat ringan, tipis sehingga kendaraan cenderung mudah rusak bila terkena tumbukan (kecelakaan).

    ketahanan dari mobil akan sangat berbeda jika dibandingkan dengan kendaraan lapis baja. Pada kendaraan lapisa baja, lapisan bajanya saja tebalnya bisa mencapai 250 mm (9,8 inci) di bagian depan dan 150 mm (5,9 inci) di bagian belakang. [6]


    Tank vs Mobil [7]

    Pada video di atas, mobil hanya seperti kaleng yang sangat mudah penyok. sangat berbeda dengan kendaraan lapis baja.

    Bentuk lain dari kendaraan lapis baja adalah panser, dengan lapisan baja setebal 10 mm. Harga satu unit Panser Anoa buatan Pindad bisa mencapai sekitar Rp 8 miliar [8]. Kendaraan lapis baja tidak selalu dalam bentuk tank ataupun panser, bisa saja terlihat seperti kendaraan biasa, tapi dengan harga yang fantastis :

    Kendaraan Lapis Baja [9]


    Note:
    1. Sudah sangat banyak orang yang meninggal dalam kecelakaan di jalan raya, tetapi tetap saja kita tidak takut untuk kembali ke jalan raya. Mungkin kita selama ini berfikir bahwa ini adalah pilihan terbaik, karena kalau harus menggunakan kendaraan lapis baja maka harga yang harus dibayar akan sangat mahal
    2. Sangat berbeda dengan PLTN, walaupun kita belum pernah mengalami kecelakaan PLTN kita cenderung takut.
    3. Mungkin kalau listrik PLTN jauh lebih murah dibandingkan pembangkit lain, seperti perbandingan harga dan biaya kendaraan kita dibandingkan kendaraan lapis baja maka kita akan memilih listrik PLTN.
    4. Safety system yang begitu canggih membuat investasi PLTN menjadi mahal, dulu waktu kuliah S-1 ada seorang Dosen yang menyatakan bahwa "60% dari investasi PLTN hanya untuk safety system"...entah bagaimana cara menghitungnya.
    5. PLTN bagaikan kendaraan lapis baja bila dibandingkan dengan pembangkit lain, gedung sungkup reaktor sangat tebal dan kokoh (tebal beton 1,3 meter), lebih tahan terhadap bencana alam (gempa, banjir, angin topan), bahkan gedung reaktor tidak akan hancur apabila ditabrak oleh pesawat.
    Referensi:
    [1] http://wartakota.tribunnews.com/2016/07/18/kecelakaan-lalu-lintas-mudik-2016-menurun-6-persen
    [3] https://youtu.be/vhACO_m5pH0
    [4] https://en.wikipedia.org/wiki/Automotive_industry
    [5] https://en.wikipedia.org/wiki/Automotive_engineering
    [6] http://alifrafikkhan.blogspot.co.id/2011/07/jagdtiger-kendaraan-lapis-baja-terberat.html
    [7] https://youtu.be/nilxgNDfV0s
    [8] http://www.jpnn.com/read/2013/10/17/196077/Dibalut-Baja-Tebal-Sekuat-Tank,-Ber-AC-dan-Kulkas-Senyaman-Sedan-
    [9] https://youtu.be/NgAEFh38Kus

    Selasa, 15 Maret 2016

    Rapat di Hotel, Warisan Hutang

    Pelaksanaan rapat di hotel merupakan kegiatan yang sudah direncanakan tahun sebelumnya, tujuannya agar roda perekonomian tetap berjalan, hotel mendapatkan pemasukan, industri penyokong hotel juga akan terkena imbasnya. Pasca kebijakan larangan rapat di hotel, bisnis perhotelan di tanah air sempat anjlok, salah satunya dipicu menurunnya okupansi atau tingkat hunian di sejumlah hotel di Tanah Air [1]. Langkah MenPAN-RB yang akhirnya melunak juga diperkirakan memberikan efek berantai di luar perhotelan, yaitu sektor akomodasi, food and beverage sampai souvenir [1]. Pendapatan hotel di daerah mencapai 70-80% dari penyelenggaraan rapat oleh instansi pemerintah [2].

    Pertemuan/rapat di luar kantor dengan menggunakan fasilitas hotel,villa,cottage,resort, atau fasilitas ruang gedung lainnya yang bukan milik pemerintah dapat dilaksanakan secara selektif, apabila memenuhi kriteria di antaranya pertemuan yang memiliki urgensi tinggi terkait dengan pembahasan materi bersifat strategis atau memerlukan koordinasi lintas sektoral, memerlukan penyelesaian secara cepat, mendesak, dan terus-menerus (simultan), sehingga memerlukan waktu penyelesaian di luar kantor. Selain itu, tidak tersedia ruang rapat kantor milik sendiri atau instansi pemerintah di wilayah tersebut, sehingga memerlukan waktu penyelesaian di luar kantor dan lokasi tempat penyelenggaraan pertemuan sulit dijangkau oleh peserta baik sarana transportasi maupun waktu perjalanan [3].

    PNS rapat di hotel berbintang supaya dapat uang tambahan, untuk rapat di luar kota, seorang PNS bisa mendapat uang tambahan sekitar Rp 200-300 ribu. Sementara untuk di dalam kota Rp 150 ribu [5]. Selain rapat di hotel PNS juga bisa mendapatkan honor tambahan dari kerja lembur. Saya sih suka dengan tambahan honornya …hehehe.. tapi klo boleh jujur lebih suka dengan yang diterapkan di Pemda Jakarta saat ini [6]. Pemda Jakarta saat ini melarang rapat di hotel tetapi memberikan Tunjangan Kinerja Daerah (TKD) yang fantastis, berkisar 4 juta s.d 42 juta [7]. TKD nilainya lebih besar dibandingkan Tunjangan Kinerja (TUKIN). Berikut ditampilkan daftar uang harian [12]

    Mungkin ada yang mengatakan, rapat di hotel merupakan pemborosan dana. Sebagaimana pada tahun 2015, rapat di hotel menghasilkan  pemborosan Rp 5,122 triliun ini berdasarkan laporan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) [4].


    Boros atau tidak, efisien atau tidak efisien sangat bersifat relatif, dari tabel di atas dapat dilihat untuk menyelenggarakan rapat sehari penuh (fullday) diperlukan dana Rp 210 ribu s.d 360 ribu per orang, sedangkan apabila sampai malam diperlukan dana Rp 520 ribu s.d satu juta. Bagaimana bila kita melihat keuangan negara pada sisi yang lain, yaitu sisi Utang Luar Negri.

    Utang Luar Negri (ULN) sektor publik meningkat 6,6% sehingga posisinya pada akhir triwulan IV 2015 menjadi sebesar USD143,009  miliar [8]. ULN cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Utang Pemerintah dan Bank Sentral USD 143 miliar, bila kita hitung dengan kurs saat ini (15 Maret 2016) [10]:

    1 USD = Rp. 13.157,- maka Utang Pemerintah dan Bank Sentral adalah :
    143.000.000.000 X 13.157 = Rp. 1.881.451.000.000.000,-
    Jumlah Utangnya 1.881 Triliun.
    Banyak banged...bagaimana kalau kita bagi dengan jumlah penduduk:

    Jumlah Penduduk Indonesia Tahun 2013 [11]

    Jika Utang tersebut dibagi dengan jumlah penduduk, maka akan didapatkan:
    Rp. 1.881.451.000.000.000 / 249.900.000 = Rp. 7.528.815
    kalau bagi-bagi hutang maka tiap Warga Negara Indonesia memiliki hutang tujuh setengah juta....mau?

    Bila anda pernah memiliki hutang/kredit, apalagi jumlahnya cukup besar, misalnya kredit hunian (rumah, apartemen) ataupun kendaraan (motor, mobil). Mau tidak mau anda harus mengalokasikan sebagian pendapatan anda untuk membayar/mencicil hutang, dan tentunya dibarengi dengan jumlah hutang yang turun dari tahun ke tahun.

    Catatan:

    1. Salah satu tujuan rapat dihotel memang untuk realisasi dana, realisasi berarti pelaksanaan dari perencanaan tahun sebelumnya.
    2. Instruksi realisasi dana ini berjenjang, saya akan mendapatkan instruksi dari atasan saya, atasan saya akan mendapatkan instruksi dari atasannya, dan begitu seterusnya.
    3. Entah alokasi dana di mana saja yang bisa dianggap sebagai pemborosan, tetapi alangkah baiknya kalau pemborosan dikurangi dan digunakan untuk mencicil hutang, agar digit hutang tidak cenderung naik setiap tahun. Menerima warisan hutang adalah sesuatu yang sangat tidak menyenangkan
    4. Sorry to say....kepada generasi penerus, maaf bila saya juga ikut andil dalam menambah jumlah Utang Luar Negri yang nilainya dari tahun ke tahun cenderung naik..upps :-p
    5. Rapat di hotel memang menyenangkan bisa makan dengan menu prasmanan kayak menu kondangan....tapi kadang-kadang bosen juga karena harus pindah-pindah dari kantor ke hotel, pindah dari satu hotel ke hotel yang lain...waktunya habis untuk transportasi dan menyiapkan perlengkapan rapat.
    6. Saya jadi teringat "Power of Giving" apa karena para pengusaha tersebut telah merelakan 10 persen dari pendapatan mereka untuk membayar pajak sehingga ada imbas balik ke usaha mereka...kalau dilihat dari sisi lain pengeluaran hotel juga balik lagi ke pemasukan pajak tapi ya cuman 10 persen.
    7. Secara nalar bisa dikatakan bahwa hanya yang kaya yang bisa berhutang banyak, karena mereka memiliki agunan, kalau Indonesia agunannya ya kekayaan alam. Akan sangat sulit bagi negara-negara yang dilanda kelaparan ataupun perang berkepanjangan untuk mengajukan hutang dalam jumlah besar.
    8. Hutang yang telalu banyak bisa membuat suatu negara bangkrut. Seperti yang tejadi di Yunani, akibatnya pemerintah mengambil inisiatif menurunkan gaji pegawai, menaikan pajak, menunda dana pensiun dan memangkas anggaran militer [13]. Saya belum bisa membayangkan kalau gaji dipotong dan dana pensiun jadi nggak jelas....
    Referensi:
    [1] http://ekbis.sindonews.com/read/990652/34/pengusaha-lega-larangan-rapat-di-hotel-dicabut-1429260805
    [2] http://finance.detik.com/read/2015/04/05/133141/2878319/4/pengusaha-hotel-di-daerah-70-80-pendapatan-hotel-dari-rapat-pns
    [3] http://www.antaranews.com/berita/490697/menteri-pariwisata-apresiasi-pencabutan-larangan-rapat-di-hotel
    [4] http://finance.detik.com/read/2015/02/17/155025/2835632/4/rapat-di-hotel-boros-rp-51-triliun-ini-perintah-jokowi-ke-menteri-yuddy
    [5] http://finance.detik.com/read/2014/09/26/131858/2702200/4/pns-rapat-di-hotel-berbintang-supaya-dapat-uang-tambahan
    [6] http://news.detik.com/berita/2877538/larangan-pns-rapat-di-hotel-dicabut-ahok-pakai-gedung-wali-kota-saja
    [7] http://setagu.net/tunjangan-kinerja-daerah-tkd-dki-jakarta-2015/
    [8] http://www.djppr.kemenkeu.go.id/page/loadViewer?idViewer=5788&action=download
    [9] http://www.kemenkeu.go.id/katalogdata
    [10] https://www.google.co.id/webhp?sourceid=chrome-instant&ion=1&espv=2&ie=UTF-8#q=USD+to+IDR
    [11] https://www.google.co.id/search?q=jumlah+penduduk+indonesia&oq=jumlah+penduduk+indonesia&aqs=chrome..69i57.4819j0j9&sourceid=chrome&ie=UTF-8
    [12] http://www.lppm.itb.ac.id/wp-content/uploads/2015/12/SBM_2016.PDF
    [13] http://www.bersatulah.com/2015/07/7-negara-paling-bangkrut-di-dunia.html